Langit semakin kelam saat roda berputar menarik waktu. Tertarik untuk tak terjulur lagi. Semua akan menghilang dengan waktu itu. Tapi, akankah semuanya hilang? Bagaimana jika ada yang masih tertinggal dan tersimpan? Meski waktu itu berlalu, detik, menit, jam, bulan, bahkan tahun yang terlampaui, ada satu hal yang tak kumengerti tentang ini. Hal yang masih saja tersimpan meski aku tak tahu akan bernasib apakah sesuatu ini yang telah begitu lama terarsip. Meski waktu memudar, tapi ingatanku masih tajam. Meski waktu kehilangan batas, aku masih menyimpan semua bahkan tanpa batas apapun. Bagaimana merasakannya. Bagaimana pertama kalinya ini dimulai. Bagaimana aku mulai memainkan hati sendiri. Bagaimana aku beteka-teki sendiri. Bagaimana aku berdiskusi sendiri tanpa ada jawaban pasti. Hanya dugaan atau bahkan sebuah harapan? Yang pasti, kini semakin tak jelas. Meski masih tersimpan, semua menjadi tak jelas. Haruskah kuyakinkan diriku lagi? Atau berputus asa. Sejarak benang membentang, semua itu sedikit sulit dan memburamkan. Sudah terlatih memandang dalam kolam dalam. Sekarang, hanya satu dua kata. Tapi, itu lebih berarti dari pada pesan kosong yang bernilai mengecewakan. Memiliki angka-angka yang akan terhubung dengannya akan semakin sulit untuk masa-masa spons. Muncul rasa takut menganggu, muncul rasa ingin menekan angka-angka yang menjadi kunci itu tapi terhenti tiba-tiba. Kenapa harus? Memiliki hal yang membuatmu sulit ini akan membuat lebih terasa cemas meski sangat setia menunggu. Tapi, apalah arti kecemasan kalau keyakinan itu ada. Masih ada jalur yang cukuup jauh untuk dilewati saat ini. Masih berjalan waktu untuk harapan dan hal yang lebih baik. Jadi, lupakan waktu yang berlalu itu dan bawalah bekal mutiara yang dihasilkan meski ada yang menyakitkan, tapi bukankah itu akan membuat mutiara itu nampak lebih cantik saat kau membawanya ke waktu yang lebih baik di depan? Itulah yang aku pikirkan. Serangkaian huruf yang tak pernah bosan kubaca, kupandangi, dan kutulis. Serangkaian huruf yang selalu kukaitkan dengan huruf-huruf yang menyusun namaku. Sedikit memaksa sih, tapi hasilnya tak buruk. Serangkaian huruf itu masih tersimpan kok. Disini, dihati. Entah kapan waktu akan mengeluarkannya. Itulah mengapa aku memikirkannya. Berkutat melangkah ke waktu yang membawa hal yang baik untukku agar serangkaian huruf itu benar-benar ada untukku. Ini hari-hariku yang terampaui tanpa melihat senyum lagi, tapi aku masih tersenyum karena senyum itu. Lama sekali tapi aku baik-baik saja. Hanya berjalan pada waktu dengan pikiranku sendiri. :)
Hanya ingin mengucap "Assalamu'alaikum", itu cukup ....
Komentar
Posting Komentar